Diantara sebab yang paling besar yang merasuk jiwa kaum muslimin adalah ketidakpedulian mereka terhadap ilmu syar’i. Mereka merasa cukup dengan apa yang mereka miliki padahal jikalau mereka mau mengerti tentang kebodohan yang ada pada diri mereka maka tentunya mereka akan menjerit dengan sekeras-kerasnya.
Allah ta’ala berfirman dalam rangka memuji orang-orang yang berilmu:
{ يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ }
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian dengan beberapa derajat dan Allah maha mengetahui terhadap apa-apa yang kalian lakukan“ (QS. al-Mujadilah: 11)
Rasulullah bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim :
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang Allah Kehendaki kebaikan pada dirinya maka ia akan dipahamkan dalam Agamanya”.
Dari hadits diatas dengan jelas mengungkapkan bahwasanya seseorang itu dikatakan baik ketika ia paham akan agamanya, yaitu paham tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dari pemahaman para pendahulu kita yang shalih dari para sahabat rasulullah, dan cukuplah seseorang itu dikatakan jelek ketika ia tidak memahami dien ini walaupun berjubel titel dunia yang disandangnya.
Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan didalam salah satu risalahnya bahwasanya ciri-ciri hati yang mati adalah ia tidak merasakan sakitnya luka-luka keburukan, kemaksiatan, kebodohannya terhadap kebenaran dan akidahnya yang rusak. Sedangkan hakikat kebodohan tersebut adalah ketika ia tidak mau mencari apa kebenaran tersebut.
Banyak sekali dampak-dampak buruk yang akan menimpa seorang muslim ketika ia tidak mau menuntut ilmu syar’i. Diantaranya adalah perkara yang paling besar yaitu Tauhid dan lawannya yaitu Syirik. Kaum muslimin tentunya sudah sangat akrab dengan istilah ini bahwasanya tauhid adalah dakwah pertama yang diajarkan rasulullah kepada umat ini, akan tetapi apakah hanya dengan mengetahui nama tauhid saja seseorang sudah dikatakan mengetahui?, tidak, sekali-sekali tidak bahkan ketika seseorang menganggap ia sudah mengetahui tauhid dengan hanya mengetahui nama tauhid kemudian tidak mau lagi mempelajari apa hakikat tauhid tersebut maka itulah orang yang benar-benar bodoh!
Sesungguhnya segala sesuatu itu dinilai dengan hakikatnya, khamr hakikatnya adalah sesuatu yang memabukkan, sedikit atau banyak, sehingga ketika khamr itu dinamai dengan nama wiski, anggur, arak ataupun yang sejenisnya tetap tidak akan mengubah hakikat khamr itu sendiri sehingga tetaplah hukumnya haram. Begitupula dengan tauhid, ketika seseorang tidak mengetahui apa itu hakikat tauhid bahkan tidak mau mengetahui apa itu tauhid maka sesungguhnya ia telah melemparkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, ia seringkali tidak mengetahui bahwa banyak sekali dari perbuatannya yang bisa membatalkan tauhidnya, atau banyak dari perbuatannya yang ternyata merupakan praktek-praktek kesyirikan.
Bukankah Allah berfirman tentang tujuan penciptaan manusia :
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56), yaitu mentauhidkan-Ku
Dan Allah juga berfirman tentang dosa perbuatan syirik :
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lebih rendah daripada syirik yang Ia kehendaki “ (QS. an-Nisaa : 48)
Jadi dari sini diketahui betapa penting dan mendesaknya pengetahuan tentang tauhid dan lawannya, yaitu syirik, karena dengan tauhid inilah pintu pembuka baginya untuk memasuki surga, dan kebalikannya dengan perbuatan syirik maka merupakan pintu baginya untuk masuk neraka kekal selama-lamanya.. Dan pengetahuan di sini bukan hanya pengetahuan nama saja akan tetapi sangat penting untuk mengetahui hakikatnya. Misalnya adalah yang sering terjadi dimasyarakat kita yang notabenenya mereka salah memahami hakikat tauhid atau memang tidak mau belajar, sehingga mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa meminta untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat dalam hal yang merupakan kekhususan bagi Allah harus diminta hanya kepada Allah saja, sehingga jika seseorang menjadikan perantara untuk meminta hal yang menjadi kekhususan bagi Allah maka berarti ia telah melakukan perbuatan syirik. Jadi jelaslah bahwa meminta kepada wali yang telah meninggal, meminta kepada nyi roro kidul, percaya dengan jimat-jimat merupakan perbuatan syirik yang nyata!!.
Contoh lain adalah dalam masalah akidah kaum muslimin, orang yang tidak mau belajar maka tentunya ia tidak akan mengetahui akidah yang benar, akidah shahihah yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para pendahulu kita yang shaleh. Dalam suatu ungkapan disebutkan bahwasanya jika seseorang tidak menyibukkan dirinya dengan kebenaran maka ia akan di sibukkan dengan kebatilan, jika ia tidak menyibukkan dirinya dengan amal shaleh maka ia akan menyibukkan dirinya dengan kemaksiatan. Jika seseorang tidak mengetahui atau tidak mau mencari akidah yang benar maka sangat besar kemungkinannya untuk menyimpang dari jalan yang lurus, dan semuanya ini tidak mungkin akan bisa diketahui kecuali dengan Ilmu.
Maka akhir dari risalah ini terdapat pesan untuk senantiasa menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun kita berada, bersemangat dalam jalan tersebut, sabar dalam beristiqomah dalam menghadapi gangguan didalamnya, dan sertakan selalu niat ikhlas karena Allah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita dan untuk mencari kebenaran hakiki yang tidak ada keraguan didalamnya.