Bersemangat Dalam Dakwah

Saudara pembaca kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, sungguh kenikmatan menjadi seorang muslim yang merealisasikan keimanannya kepada Allah ta’ala adalah sebuah kenikmatan besar, kenikmatan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kenikmatan menjadi seorang hamba yang sesungguhnya, seorang hamba yang hanya beribadah kepada Allah semata, seorang hamba yang benar-benar meyakini kalau ia akan menemui suatu hari yang tidak akan berguna harta benda dan segala kekayaan yang ia miliki kecuali amalannya yang saleh, kenikmatan menjadi seorang hamba yang merasakan manisnya iman, indahnya menjadi seorang muslim yang hakiki, seorang muslim yang dengan tegas mengatakan, “Aku adalah seorang muslim.”

Saudara pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, sungguh kita sangat butuh bekal yang banyak untuk menempuh perjalanan panjang di akhirat nanti, dan sebaik-baik bekal adalah amalan saleh yang kita lakukan. Amalan yang menjadi sebab Allah menjadikan kita sebagai hambanya yang beruntung. Kemudian pertanyaannya, apa bekal terbaik yang bisa kita siapkan untuk menghadapi hari tersebut? Maka di antara jawabnya bekal dakwah ilallah.

Keutamaan Dakwah
Dalam al-Qur’an Allah ta’ala banyak memberikan kita perintah semangat untuk berdakwah, di antaranya Allah ta’ala berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Bahkan Allah ta’ala menjadikan dakwah adalah sebaik-baik perkataan dalam firman-Nya, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Berdakwah Di Atas Ilmu Yang Benar
Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh (petunjuk yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik’.” (QS. Yusuf [12]: 108). Al-Bashiroh adalah ilmu, seorang yang berdakwah tentunya berlandaskan ilmu yang benar, di atas petunjuk al-Qur’an, sunah Rasulullah berdasarkan pemahaman para pendahulu kita yang saleh. Karena itulah Imam Bukhari mengatakan, “Ilmu dahulu sebelum berkata dan beramal.”

Dakwah Adalah Jalannya Para Rasul
Hal ini sebagaimana di firmankan Allah ta’ala dalam surat Yusuf di atas, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada manusia bahwa jalan beliau adalah jalan dakwah kepada Allah, agar manusia hanya menyembah kepada-Nya, agar manusia taat kepada-Nya.
Dalam al-Qur’an Allah ta’ala banyak mengisahkan tentang perjalanan para nabi dan rasul-Nya dalam berdakwah, di antaranya Allah ta’ala mengisahkan dakwah yang dilakukan oleh nabiyullah Ibrahim ketika beliau berdakwah kepada ayahnya, “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” (QS. Maryam [19]: 41-45). Dalam ayat ini Allah ta’ala mengisahkan perjalanan dakwah nabi Ibrahim ketika beliau berdakwah kepada ayah beliau. Allah mengabadikan dakwah beliau dalam kitab-Nya yang mulia yang menunjukkan betapa mulianya dakwah ini.

Dakwah Menunjukkan Kesempurnaan Iman
Dakwah adalah pekerjaan para nabi dan rasul ‘alaihimus salam, dan juga jalannya orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Ketika seorang manusia mengenal siapa dzat yang ia sembah, siapa nabinya, apa agamanya kemudian Allah memberikan karunia kepadanya untuk menempuh jalan hidayah, yaitu berjalan di atas agama yang benar, maka sepantasnya ia menggugah saudaranya yang lain agar bisa merasakan kenikmatan yang besar ini, bukankah keinginan kita agar saudara kita mendapat kebaikan menunjukkan kecintaan kepada saudara kita tersebut?, hal ini juga menunjukkan kita telah merealisasikan iman yang kita miliki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak beriman (dengan sempurna) sehingga bisa mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana mencintai diri kalian sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pahala Yang Tidak Terputus
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang manusia mati maka amalannya terputus kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Dalam hadits di atas Rasulullah mengabarkan bahwa di antara amalan yang bermanfaat bagi pelakunya meskipun ia telah meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan ilmu tersebut diamalkan oleh manusia, dan tentunya cara menyebarkan ilmu tersebut dengan berdakwah, dengan mengajarkan ilmu, dengan menulis dan amalan lain yang berkaitan dengan penyebaran ilmu.

Pahala Yang Tidak Terbatas
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR. Muslim). Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berdakwah menuju kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya dan pahala itu tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Bisa jadi salah satu murid yang kita didik menjadi seorang guru besar kemudian ia banyak mengajarkan ilmu sehingga banyak orang mendapat manfaat dari ilmu tersebut sehingga kita pun mendapat ganjaran pahala, itu salah satu murid, bagaimana jika ada 2 murid, 10 murid 100 murid, berapa pahala yang bisa kita kumpulkan??..
Bisa jadi juga salah satu tulisan yang kita tulis menjadi salah satu rujukan ilmiah dari pembahasan yang bermanfaat, sehingga orang-orang dari tiap generasi bisa mengambil manfaat dari tulisan tersebut, bagaimana jika ada 2 tulisan, 3 tulisan, 10 tulisan? Maka tentu pahalanya akan lebih banyak lagi. Kita bisa melihat contoh dari Imam Bukhari, kaum muslimin tiap generasi mendapat manfaat dari kitab beliau, Shahih Bukhari, maka bisakah kita menghitung betapa banyak pahala yang beliau kumpulkan?
Maka hadits inilah yang menjadikan kita tidak bisa mencapai derajat Rasulullah dan para sahabat beliau, bagaimana kita bisa melebihi mereka, sedangkan apapun amalan yang kita lakukan berasal dari tuntunan Rasulullah melalui para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Maka sekarang kita juga berusaha meniti jejak mereka dengan cara menyebarkan ilmu, semoga dakwah kita bisa bermanfaat kepada kaum muslimin.

Memperingati Manusia Dari Dakwah Yang Salah
Dakwah kepada tuntunan Rasulullah dan mengingatkan dari dakwah yang tidak sesuai tuntunan beliau (bid’ah) tidak kalah mulianya, berdasarkan kelanjutan dari hadits di atas di mana Rasulullah bersabda, “dan barangsiapa berdakwah kepada kejelekan maka ia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya dan dosa tersebut tidak akan mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim). Seorang yang berdakwah kepada bid’ah sama saja ia menanam modal dosa, semakin meluas dakwahnya maka semakin banyak dosa yang akan ia dapatkan, maka seruan kepada sunnah dan mengingatkan dari bahayanya bid’ah adalah dakwah yang tidak kalah penting. Dakwah yang menjaga kemurnian syariat, menyelamatkan umat dari kerusakan. Maka perkataan “Bid’ah lagi bid’ah lagi… bikin umat berpecah saja..” adalah penyataan yang tidak tepat, karena dengan peringatan tersebut umat mendapatkan nasihat, umat dapat bersatu di atas sunah (tuntunan Rasulullah). Juga bagi dai penyeru bid’ah, nasihat ini menjadikannya lebih sedikit “menanam” dosa, karena lebih sedikit orang yang mengikutinya. Bisa di bayangkan seandainya seorang dai penyeru bid’ah diikuti oleh 10 orang, kemudian muridnya tersebut menyebarkan bid’ah juga kepada 10 orang lagi dan seterusnya… maka betapa banyak dosa yang ia kumpulkan, laa haula walaa quwwata illa billah.

Sarana Untuk Berdakwah
Pembaca sekalian yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, sungguh medan dakwah sekarang ini terbuka luas, banyak sekali media yang bisa menjadi sarana dakwah bagi kita. Dalam dakwah kita tidak harus menjadi seorang ustadz yang pandai berbicara di depan mimbar, atau seorang penulis handal yang menerbitkan banyak buku-buku agama, akan tetapi dakwah bisa dilakukan dengan banyak hal, bisa dimulai dengan menyebarkan pamflet-pamflet kajian, menulis tulisan ringan tapi padat manfaat di sebuah buletin, majalah ataupun berbagai media massa lainnya, semoga salah satu tulisan kita bisa menjadi sarana bagi seseorang untuk mendapat hidayah.
Sarana berdakwah lain adalah melalui penyediaan sarana, misalnya seorang berkecupan menyisihkan sebagian hartanya untuk dakwah, misalnya menyediakan sarana radio dakwah yang bisa didengarkan oleh kaum muslimin, di saat kebanyakan kaum muslimin disibukkan dengan berbagai musik dan perkataan sia-sia, mengapa tidak kita buka sarana bagi kaum muslimin untuk mendengarkan pengajian-pengajian bermanfaat atau lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an.

Tidak Menyepelekan Dakwah Walaupun Terlihat Kecil
Wahai saudaraku, janganlah kita menyepelekan dakwah walaupun terlihat sepele, walau mungkin hanya sekedar menyebarkan selembar buletin yang berisi pembahasan iman kepada Allah, sekedar menempelkan pengajian yang berisi kajian tentang akidah yang benar ataupun sekedar menasihati satu dua kata kepada saudara kita yang berbuat kesalahan, bisa jadi dengan hal “kecil” tersebut bisa menjadi dakwah bagi saudara kita, apakah kita tidak ingin mendapatkan harta yang berharga, Rasulullah bersabda, “Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta paling berharga orang Arab saat itu).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersabar Dalam Dakwah
Kalau kita melihat perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah betapa kesabaran beliau dalam menetapi jalan dakwah, beliau dicaci, didustakan, dihina, disakiti, dilukai bahkan hendak dibunuh akan tetapi hal tersebut tidak memundurkan beliau sedikitpun dari jalan dakwah. Akan tetapi Allah lah penolong orang yang berjuang di jalan-Nya.
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al-Hajj [22]: 40), “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al-Furqon [25]: 31)

Istiqomah Di Jalan Dakwah
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan Kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS. Fushshilat [41]: 30)
Sahabat Sufyan bin Abdullah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan yang aku tidak bertanya kepada seorangpun melainkan engkau, maka Rasulullah menjawab, ‘Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian Istiqomah lah’.” (HR. Muslim)
Istiqomah adalah perkara yang didambakan oleh seorang muslim, akan tetapi cobaan-cobaan di dunia sering kali menjauhkan seorang muslim dari agamanya, maka salah satu cara untuk meraih keistiqomahan adalah dengan berdakwah. Dengan berdakwah maka seorang muslim senantiasa memperbarui iman dan semangatnya untuk mengajak orang lain ke jalan Allah, maka dakwah ini di samping bermanfaat bagi orang-orang di sekelilingnya, juga bermanfaat bagi dai tersebut karena ia bisa lebih memperkuat iman yang ia miliki.

Semoga Allah menjadikan hamba-Nya yang senantiasa beramal saleh sebagai bekal kita di akhirat nanti, amin. (Satria Buana)

Leave a Reply